web page hit counter

Mengetahui Portofolio Saham dan Tips Menyusunnya Agar Cuan Maksimal

Saham menjadi salah satu instrumen investasi yang populer di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Walaupun memiliki resiko kerugian yang tinggi, namun tindakan tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan juga memberikan keuntungan yang tinggi.

Jika seorang investor saham ingin menghindari atau meminimalkan timbulnya kerugian, maka penting baginya untuk menyusun portofolio saham. Namun sayangnya, masih banyak investor saham, terutama yang masih pemula, yang awam dengan portofolio saham.

Padahal dengan portofolio, investasi pada saham dapat dilakukan secara optimal dan peluang memperolehnya lebih besar.

Jika Anda seorang investor saham pemula dan ingin menambah informasi seputar saham, berikut beberapa ulasan mengenai apa itu portofolio saham, jenis-jenis saran yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Pengertian Portofolio Saham

Untuk memudahkan dalam memahami arti dari portofolio saham, Anda harus terlebih dahulu memahami portofolio itu sendiri. Setelah itu, Anda akan mendapatkan kesimpulan.

Portofolio adalah kumpulan dari berbagai instrumen investasi. Misalnya, Anda melakukan investasi di saham, reksa dana, obligasi, properti, dll. Sedangkan yang dimaksud dengan portofolio saham adalah Anda sebagai investor memiliki kumpulan aset saham.

Investor yang umumnya memiliki lebih dari satu aset saham karena juga memiliki tujuan investasi yang beragam.

Misalnya, ada aset saham yang ditujukan untuk jangka pendek, seperti pembelian barang bermerek, barang elektronik mahal, liburan, kendaraan DP atau rumah, dll. Selain itu, ada juga aset ekuitas yang digunakan untuk jangka panjang, seperti dana pensiun, pendidikan anak usia dini, dan lain-lain.

Manfaat Portofolio Saham

Jika Anda memiliki lebih dari satu aset saham, akan lebih mudah untuk mencapai tujuan investasi yang Anda rencanakan. Namun, harapan ini akan sia-sia jika Anda tidak memperhatikan setiap aset saham yang Anda miliki. Ada, Anda hanya kehilangan uang.

BACA JUGA:  Tertarik Trading Saham? Berikut Aplikasi Saham Terbaik untuk Pemula 2022

Hal ini tentu tidak akan terjadi, jika Anda membangun portofolio saham. Mengenai tujuan portofolio saham, antara lain:

  • Bisa menganalisa dan melihat, apakah kamu memiliki risiko yang tinggi atau rendah
  • Memudahkan investor dalam menghitung persentase return
  • Mengetahui kinerja investasi yang baik
  • Mengetahui bagaimana perkembangan pasar saat ini
  • Investor bisa mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal

Jenis Portofolio Saham

Perlu kamu ketahui, bahwa terdapat beberapa jenis portofolio saham yang biasanya diterapkan kalangan investor saham. Berikut penjelasannya yang dirangkum dari situs idxchannel.com:

1. Growth Portofolio

Growth portfolio adalah portofolio yang disusun untuk mendorong pertumbuhan portofolio itu sendiri. Portofolio yang fokus untuk pertumbuhan aset investasi biasanya menerapkan prinsip high risk, high return.

Biasanya, investor yang memakai portofolio saham jenis growth ini, ia memiliki tekad dan keyakinan yang tinggi untuk mengambil aset saham yang risiko tinggi. Hal ini dilakukan demi mendapatkan cuan yang besar juga.

Emiten yang dapat dipilih jika menggunakan growth portofolio, antara lain:

  • Emiten yang memiliki perkembangan baik pada saat itu
  • Emiten lapis kedua atau yang memiliki nilai kapitalisasi pasar menengah dan kecil tapi kinerja bagus. Contohnya pada saat ini per Oktober 2021 yang dikutip dari kontan.co.id, ialah LPPF, LINK, ITMG, HEAL, ERAA, ADRO, JPFA, dan lainnya.

2. Income Portofolio

Namanya juga income, pastinya jenis portofolio ini mengandalkan pendapatan dari investasi itu sendiri. Artinya, investor mendapatkan keuntungan dari dividen yang berasal dari perusahaan-perusahaan tertentu di periode yang sudah ditentukan.

Sementara, capital gain atau keuntungan dari penjualan saham tidak terlalu difokuskan meski harga jualnya lebih tinggi daripada harga saat kamu membelinya.

3. Value Portofolio

Value portofolio adalah kumpulan saham-saham yang dibeli investor dengan harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan saham dari perusahaan lain yang berjalan di industri yang sama. Kumpulan saham-saham murah ini dikenal juga dengan sebutan undervalued stock.

Untuk mendapatkan keuntungan, investor yang memakai jenis portofolio ini sengaja menahan saham-saham yang dibeli tersebut dengan waktu yang lumayan lama. Investor akan melihat seberapa besar value yang bisa didapatkan. Yang pasti value tersebut harus lebih tinggi dari waktu awal membeli.

BACA JUGA:  Tips Trading untuk Pemula Agar Cuan, Minim Resiko, dan Anti FOMO

Namun, perlu diketahui bahwa value portofolio memiliki risiko kerugian yang lebih tinggi karena harga saham yang murah juga bersifat fluktuatif.

Tips Membangun Portofolio Saham

Jika kamu telah memahami betapa pentingnya portofolio saham tersebut, maka jangan menunda waktu lagi untuk membuatnya. Segera bangun portofolio saham agar investasi yang kamu lakukan bisa maksimal dan sesuai harapan.

Sebelum itu, kamu bisa menerapkan beberapa tips membangun portofolio saham seperti berikut ini:

1. Tentukan Tujuan Investasi

Bukan langsung memilih saham mana yang bagus untuk dibeli. Akan tetapi, hal pertama yang perlu dilakukan sebelum membangun portofolio adalah kamu wajib menentukan apa saja yang menjadi tujuan kamu untuk berinvestasi di saham.

Sebab, dengan tujuan investasi yang telah direncanakan akan menjadi dasar kamu menjalankan investasi. Jadi, kamu tidak mudah goyah atau patah semangat jika dihadapi dengan risiko demi meraih tujuan investasi tersebut.

Tujuan investasi itu sangat beragam. Misalnya saja, untuk dana pensiun ketika sudah tidak bekerja lagi, membeli rumah atau kendaraan, pendidikan untuk anak, dana pernikahan dan lainnya. Kamu hanya tinggal menentukan tujuan investasi sesuai dengan kebutuhanmu sesuai jangka pendek hingga menengah.

2. Mengetahui Profil Risiko

Sebelum menentukan jenis portofolio mana yang akan dibangun, kamu harus mengetahui profil risikomu sendiri. Profil risiko ini memiliki 3 tipe yang masing-masingnya menunjukkan risiko yang berbeda-beda.

  • Profil risiko konservatif

Bagi kamu investor saham pemula yang masih minim pengetahuan saham atau tidak suka dengan risiko, berarti kamu termasuk profil risiko konservatif. Hal ini dikarenakan tingkat penerima risiko konservatif paling rendah.

Selain itu, investor yang konservatif tidak terlalu fokus pada keuntungan sebab meraka hanya ingin memberikan keamanan dari nilai kekayaan yang dimiliki agar tidak berkurang.

  • Profil risiko moderat

Berjalannya waktu, pengetahuan investor akan saham semakin bertambah. Dengan begitu, para investor juga akan meningkatkan profil risiko mereka.

BACA JUGA:  Kapan Sebaiknya Trader Harus Hold dan Cut Loss Saham? Yuk Simak Agar Tidak Loss!

Yang tadinya tidak berani dengan adanya risiko, secara perlahan mulai percaya diri dengan mengambil risiko yang sedang. Kamu yang sekarang ini berada di fase ini, maka kamu tipe profil risko moderat.

Biasanya, tipe moderat ini memiliki tujuan investasi jangka menengah yang tingkat returnnya tidak signifikan. Ini tentunya bukan jadi masalah, yang terpenting kamu bisa belajar dalam menghadapi risiko yang menengah.

  • Profil risiko agresif

Maksud dari agresif pada profil risiko disini adalah kamu yang sudah memiliki wawasan di dunia investasi yang begitu luas sehingga kamu suka dengan risiko yang tinggi demi mendapatkan imbal hasil yang tinggi juga.

Mereka yang berada di posisi agresif ini, sangat berani menyetorkan modal yang jumlahnya besar. Tapi mereka juga tidak takut dengan risiko yang dihadapi, karena sudah ada ilmu saham yang bisa digunakan.

3. Menyiapkan Modal Investasi

Menjalankan investasi juga tidak boleh takabur alias langsung menyetorkan modal besar dengan harapan mendapatkan keuntungan yang besar. Meski modal besar, risiko kerugian akan tetap ada.

Lebih baik, cek kembali modal investasi yang kamu siapkan. Pastikan modal tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu. Dengan begitu, investasi dan kebutuhan bisa berjalan seimbang.

4. Diversifikasi Portofolio

Dengan modal investasi yang kamu miliki, jangan semuanya difokuskan ke satu saham saja. Lebih baik, lakukan diversifikasi portofolio yang dimana kamu bisa memilih lebih dari satu saham atau minimal 5 – 10 saham dalam portofolio.

Hal ini untuk menghindari terjadinya risiko yang besar jika perusahaan mengalami penurunan yang membuat harga saham jatoh.

Lakukan Pengecekan Portofolio Secara Rutin

Untuk mendapatkan hasil saham yang maksimal, tentunya kamu juga harus rela berkorban untuk melakukan pengecekan portofolio secarar rutin. Hal ini juga mengingat harga saham yang bisa saja berubah sewaktu-waktu. Dengan pengecekan portofolio secara rutin ini juga bisa membuat kamu menyusun strategi yang tepat untuk menghindari terjadi risiko kerugian.